Senin, 01 Februari 2010

PON 2012 tak Lombakan Sepatu Roda

PON 2012 Tidak Lombakan Sepatu Roda


Berita ini diambil dari Harian Pikiran Rakyat, 15 Jan 2010

PON 2012 tak Lombakan Sepatu Roda
CABANG olah raga sepatu roda terancam tidak diperbandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau karena tuan rumah tidak memiliki Pengprov Perserosi dan atlet Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PB Peserosi, Fitra Tara Mizar, ketika meninjau kesiapan sirkuit sepatu roda di Gelora Jatidiri Semarang, Kamis (14/1) mengatakan, kemungkinan sepatu roda tak diperbandingkan itu berdasarkan pertemuan dengan Kabid Binpres KONI Provinsi Riau yang dihadiri oleh lima Pengprov Perserosi (Jakarta, Jateng, Jabar. Kaltim, dan Banten) di Jakarta beberapa waktu lalu. Pihak KONI Riau yang diwakili Kabid Binpres, Sudarto, menjelaskan. Riau tidak memiliki Pengprov Perserosi dan atlet sepatu roda. (Ant/A-187)***

Senin, 11 Januari 2010

PERATURAN DAN TATA TERTIB LOMBA

PANITIA KEJUARAAN NASIONAL SEPATU RODA
”PIALA BUPATI SIDOARJO VIII TAHUN 2010”


PERATURAN DAN TATA TERTIB LOMBA


A. PERSYARATAN PESERTA

1. Pada dasarnya peraturan pertandingan mengacu pada peraturan PORSEROSI ditambah dengan peraturan tambahan.
2. Peserta lomba adalah atlet-atlet dari klub/perkumpulan sepatu roda/perorangan.
3. Pendaftaran harus disertai identitas atlet yang resmi yaitu foto copy dan asli akte kelahiran dan foto 2 (dua) lembar ukuran 3x4.
4. Setiap kontingen diwajibkan menunjukkan 1 (satu) Mangajer Tim dan 2 (dua) orang Official serta mengumpulkan 2 (dua) lembar foto ukuran 3x4.
5. Setiap atlet hanya diperbolehkan mengikuti 2 (dua) mata lomba.
6. Batas usia maksimum untuk setiap kelompok umur dihitung sampai dengan saat hari ulang tahunnya.
7. Setiap peserta dapat mengikuti lomba satu tingkat di atas kelompok umurnya denga catatan apabila sudah berada dikelompok umur tersebut tidak diperkenankan untuk mengikuti kelompok umur sebenarnya.
8. Setiap peserta tidak diperbolehkan mengikuti kelompok umur dibawahnya.
9. Pada acara technikal meeting apabila tidak hadir maka dianggap telah mengerti dan menyetujui hasil keputusan technikal meeting.
10. Setiap peserta sebaiknya memakai pakaian olah raga sesuai dengan klubnya.
11. Kelompok umur A, B, C, dan D untuk Putra dan Putri nomor lomba: Sprint 500 m, Sprint 1000 m, Eleminasi 3000 m dan PTP 5000 m.
12. Kelompok umur E dan F untuk Putra dan Putri nomor lomba : Sprint 500 m, Sprint 1000 m, PTP 5000 m, PTP 10.000 m dan Eliminasi 10.000 m.
13. Kelompok umur A, B, dan C (Standart) untuk Putra dan Putri nomor lomba : Sprint 500 m dan Sprint 1000 m.

B. PERATURAN LOMBA

SPRINT 500 M DAN 1.000 M STANDAR/SPEED
1. Lomba sprint akan dilakukan babak penyisihan hingga final tergantung jumlah atlet yang akan berlomba.
2. Untuk STANDAR iikuti oleh Kelompok Umur A, B, C dan untuk SPEED diikuti oleh Kelompok Umur A, B, C, D, E dan F.

3. Star peserta dengan posisi atelt berdiri statis (diam) di dgaris start yang tersedia dan atlet akan mulai bergerak pada saat aba-aba start yang tersedia, dan atlet akan mulai bergerak pada saat aba-aba start dari starter “ Ya “ terdengar.

4. Apabila terjadi pencurian start, hanya akan ditolerir samapi 2 (dua) kali. Dan apabila terjadi pencurian start ke 3 (tiga) maka atlet yang melakukannya akan langsung didiskualifikasi, walaupun mungkin atlet tersebut tidak melakukan pencurian start sebelumnya, demikian pula dengan pencurian star ke 4 (empat) dan seterusnya dalam seri tersebut akan langsung didiskualifikasi untuk atlet yang bersangkutan.
5. Penentuan juara/pemenang adalah atlet tercepat yang menginjak/melewati garis finish dengan diikuti oleh seluruh tubuhnya, dan tidak melakukan pelanggaran apapun juga yang dapat mengakibatkan terganggu atlet lain yang berlomba pada babak tersebut.
6. Lintasan menggunakan trek lurus melingkar.

ELIMINASI 3.000 M, 5.000 M DAN 10.000 M SPEED
1. Lomba dilaksanakan dengan system langsung final.
2. Penentuan juara/pemenang adalah atlet tercepat yang menginjak/melewati garis finish dengan diikuti oleh seluruh tubuhnya, dan tidak melakukan pelanggaran apapun juga yang dapat mengakibatkan terganggu atlet lain yang berlomba pada babak tersebut.
3. Bel tanda akan berlangsungnya eliminasi akan berbunyi di putaran ganjil, dan pada putaran berikutnya )putaran genap) 1(satu) atlet terakhir dalam urutan tersebut akan dikeluarkan dari arena lomba.
4. Eliminasi 10.000 M akan dimulai sejak atlet terdepan telah melakukan 2 (dua) putaran, arena lomba berjarak 300 M setiapnya, maka eliminasi akan mulai saat papan penunjuk lap/putaran menunjukkan angka 31, untuk itu akan dibunyikan Bel, dan eliminasi akan berlangsung terus setiap 2 (dua) lap/putaran. Bel akan berbunyi pada sisa lap/putaran 31, 29, 27, 25, 23, ..... dst (putaran ganjil) dan eliminasi terjadi disetiap putaran genap (30, 28, 26, 24, 22, ..... dst) sampai jumlah peserta tersisa hanya 5 (lima) atlet.
5. Eliminasi 5.000 M akan dimulai sejak atlet terdepan telah melakukan 2 (dua) putaran, arena lomba berjarak 300 M setiapnya, maka eliminasi akan mulai saat papan penunjuk lap/putaran menunjukkan angka 15, untuk itu akan dibunyikan Bel, dan eliminasi akan berlangsung terus setiap 2 (dua) lap/putaran. Bel akan berbunyi pada sisa lap/putaran 15, 13, 11, 9, ..... dst (putaran ganjil) dan eliminasi terjadi disetiap putaran genap (14, 12, 10, ..... dst) sampai jumlah peserta tersisa hanya 5 (lima) atlet.
6. Eliminasi 3.000 M akan dimulai sejak lap/putaran pertama.
7. Apabila papan penunjuk lap sudah menunjukan angka 3 (tiga) putaran lagi, dan atlet yang akan berlomba masih lebih dari 5 (lima) orang, maka kelebihan jumlah atlet tersebut akan langsung dieliminasi (berapapun jumlah kelebihannya) sebagai pedoman adalah pada putaran eliminasi terakhir hanya boleh menyiksakan 5 (lima) atlet terdepan.
8. Putaran pertama eliminasi sangatlah bergantung pada jumlah atlet yang berlomba di nomor ini.
9. Nomor lomba ini juga memakai system overlap, yang akan diberlakukan sejak awal start, tanpa harus menunggu awal lap eliminasi yang telah ditentukan.
10. Lomba dilaksanakan dengan system start massal (mass satar). Atlet daalm posisi statis/diam, dan atlet baru mulai bergerak pada saat aba-aba satart “ Ya “ terdengar. Diskualifikasi berlaku untuk atlet yang melakukan pencurian start keiga, keempat ..... dst.
11. Posisi start akan dilaksanakan dengan system undian yang akan dilakukan oleh panpel, dengan menutamakan system seeded dari data hasil kejuaraan yang terakhir (sebelumnya).

POINT TO POINT 10.000 M SPEED
1. Saat putaran tertentu ATLET PERTAMA SAJA yang menginjak/melewati garis finish yang akan memperoleh 2 (dua) poin. Dan atlet kedua yang melewat garis finish akan memperoleh 1 (satu) poin. Dan khusus putaran terakhir (finish) poin 3 (tiga) diberikan untuk atelt pertama, poin 2 (dua) untuk atelt kedua, dan poin 1 (satu) untuk atlet ketiga yang memasuki/melewati garis finish.
2. Poin diberikan pada lap-lap/putaran-putaran genap dan pada saat papan penunjuk jumlah putaran menunjuk angka putaran ganjil bel akan berbunyi sebagai pertanda akan dilakukan pemberian poin pad putaran berikutnya.
3. Penentuan juara adalahatlet yang memperoleh Jumlah Poin terbanyak, dan menyelesaikan lomba sampai memasuki garis finish pada putaran terakhir, walaupun atlet tersebut tidak diurutan 1, 2, atau 3. apabila terdapat jumlah poin yang sama, maka sebagai penetu Juara/Pemenang adalah atlet yang menempuh jumlah poin yang sama tersebut.
4. Atlet dengan jumlah poin terbanyak tetapi tidak dapat menyelesaikan lombanya sampai putaran terakhir, maka atlet tersebut dianggap mengundurkan diri, sehingga poin yang di dapatkannya dianggap hangus.
5. Lomba dilaksanakan dengan system start massal (mass satar). Atlet daalm posisi statis/diam, dan atlet baru mulai bergerak pada saat aba-aba start “ Ya “ terdengar. Diskualifikasi berlaku untuk atlet yang melakukan pencurian start keiga, keempat ..... dst.
6. Posisi start akan dilaksanakan dengan system undian yang akan dilakukan oleh panpel, dengan menutamakan system seeded dari data hasil kejuaraan yang terakhir (sebelumnya).

C. PERATURAN TATATERTIB SECARA UMUM

1. Selama di arena lomba setiap peserta wajib menjaga disiplin dan kesopanan serta nama baik PORSEROSI dan turut mensukseskan Kejuaran Nasional Sepatu Roda Piala Bupati Sidoarjo Tahun 2009.
2. Setiap peserta wajib mematuhi peraturan lomba yang telah ditentukan oleh panitia.
3. Pemanggila peserta lomba hanya dilakukan 3 (tiga) kali, pertama 5 (lima) menit sebelum perlombaan berlangsung dengan menyebutkan seluruh nama peserta, kedua 1 (satu) menit sebelum perlombaan dan ketiga saat akan dimulai start untuk pengecekan nomor peserta.
4. Setiap peserta lomba wajib menggunakan nomor peserta yang telah disediakan oleh panitia.
5. Setiap atlet, team manager dan official wajib memakai ID CARD PIALA BUPATI SIDOARJO VII TAHUN 2009 selama berada dalam daerah perlombaan.
6. Selama perlombaan berlangsung, yang dapat berhubungan dengan panitia adalah team manager/official saja.
7. Setiap peserta yang telah selesai berlomba diharuskan melapor kembali ke juri di garis finish untuk pengecekan urutan masuknya, apabila tidak mengindahkan kesalahan administrasi yang terjadi akan menjadi tanggung jawab peserta.
8. Pada dasarnya jadwal pertandingan mengikat, tetapi apabila diperlukan perubahan akan diumumkan ke semua peserta melalui pengeras suara.
9. Official, orang tua dan peserta yang tidak melakukan pemanasan menjelang pertandingan dilarang berada di lintasan.
10. Peserta yang jatuh dan tidak cedera parah dan masih mampu bangun tanpa bantuan pihak III, dapat menyelesaikan lomba, dan yang diizinkan menolong hanya panitia dan Tim P3K.
11. Peserta yang dipanggil harus segera menuju ke tempat start untuk pengarahan dan pengecekan terakhir.

D. SANKSI-SANKSI

Untuk terselenggaranya perlombaan dapat berjalan dengan baik, tertib dan lancar serta untuk menjaga sportifitas dan fair play maka semua diharap bersama-sama mendisiplinkan diri, berusaha melakukan pembinaan yang menuju kepada peningkatan prestasi.
Agar peraturan dapat ditegakan maka perlu adanya sanksi yang tegas terhadap seluruh peserta dan semua pihak yang terlibat dalam acara ini apabila melakukan pelanggaran.

Adapunyang terkena sanksi adalah :
1. Peserta yang tidak mematuhi tata tertib, sopan santun dan peraturan lomba.
2. Peserta lomba yang sedang mencoba lintasan atau yang sedang berlomba melakukan :
a. Meluncur berlawanan arah dengan atlet lain sesuai dengan jalur lintasan.
b. Menghalang-halangi atlet lain, mendorong dengan sengaja, menyikut, menjegal atlet lain, menyentuh anggota badan atlet lain dengan tujuan ingin menjatuhkan secara sengaja.
c. Berbuat tidak sopan dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas.
Apabila seorang atlet melakukan hal-hal tersebut di atas, maka dapat dikenakan sanksi yaitu hasil sebagai juara pertandingan dibatalkan.

Untuk pelatih/perwakilan yang tidak dapat mengendalikan pendukungnya sehingga menggangu atlet lain atu panitia sehingga menimbulkan keributan dan kekerasan maka panitia berhak meminta pertanggung jawabannya.
Kami panitia berharap semua permasalahan dikembalikan kepada jiwa seorang olahragawan/wati, yaitu berjiwa sportif dan berjiwa besar demi kemajuan kita bersama khususnya olahraga sepatu roda.

E. PROTES
Protes dapat dilakukan dan disampaikan leapada Chief Refree yang bersangkutan secara tertib dengan membayar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dan diajukan dalam jangka waktu 15 menit setelah diumumkan urutan pemenang dari nomor lomba yang bersangkutan.
Keputusan Panitia beserta juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, dan uang protes tidak dapat dikembalikan dan menjadi milik panitia.

F. PENUTUP
Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan dan tata tertib lomba ini akan dikonfirmasikan lebih lanjut.

Undangan Kejuaraan Nasional Sepatu Roda Antar Klub 2010

Kepada
Yth. Bapak/Ibu/Sdr Pimpinan
Klub Sepatu Roda
di tempat

Salam Olah Raga,
Dalam rangka memperingati hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-151 Tahun 2010, Pengurus PORSEROSI Kabupaten Sidoarjo akan menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Sepatu Roda Antar Klub “ PIALA BUPATI SIDOARJO VIII TAHUN 2010 “ Kelompok Umur, Kelas Spesial dan Standar yang akan kami selenggarakan pada :

Hari : Sabtu dan Minggu
Tanggal : 6 dan 7 Pebruari 2010
Waktu : 08.00 s/d selesai
Tempat : Sirkuit Sepatu Roda Parkir Timur Gelora Delta Sidoarjo

Besar harapan kami atas kehadiran dan keikut sertaan atlet-atlet dari Klub Bapak/Ibu/Saudara/i pada kejuaraan tersebut.

Demikian atas perhatianya disampaikan terima kasih.

NB : Tehnical Meeting pada hari Kamis tanggal 4 Pebruari 2010 pukul 19.00 WIB di Kantor Dinas PU Bina Marga Jl. Sultan Agung 17A Sidoarjo. Daftar nama peserta kami terima selambat-lambatnya tanggal 28 Januari 2010. Biaya pendaftaran Rp. 60.000,- per atlit.


PANITIA PELAKSANA
Ketua

Ir. HERU SUBAGIYO

Tembusan :
1. Ketua Umum PB. PORSEROSI;
2. Ketua Umum PENGDA PORSEROSI se-Indonesia.

Rabu, 07 Oktober 2009

Kontroversi Roda 100mm bagi anak-anak

Saya pernah nulis di FSnya Rodra mengenai kontroversi pemakaian roda 100mm bagi anak-anak (KU: B-C), dan mendapat beberapoa tanggapan cukup menarik. Saya turunkan di sini agar dapat dibaca lebih luas. Waktu itu saya menulis begini:

Diameter roda paling ngetrend belakangan adalah 100mm, meski ada yg sdh pakai 110mm. Ukuran roda yang lazim dipakai atlet dewasa ini ternyata diikuti atlet anak-anak kelompok umur C dan D (10 - 14 tahun), bahkan ada yang masih di kelompok B sudah memakai roda 100mm. Bagaimana pendapat Anda?

Komentar pertama dari Fino:

Salam kenal Pak Rahmat... Agak sedikit melenceng, tapi mungkin pertanyaan saya ini masih relevan. Dari pengalaman Pak Rahmat (& rekan2 yg lain) mengamati olah raga sepatu roda, apakah dengan memakai roda 100mm, anak-anak jadi berlari lebih cepat dibanding dengan memakai roda misalnya 80, 84 atau 90mm?

Jawab saya:

anak usia 8 - 12 th menurutku sih kurang proporsional pake roda 100mm, terutama utk anak Indonesia yg fisiknya kecil. Bisa jadi, "the bigger the faster", tp kalo yg pake anak-anak ya... makin besar makin berat dan terlalu membebani otot kaki... BTW, I'm not a skater.

Rodra menulis begini:

Setau saya selaen masalah kecepatan adalah masalah kestabilan...Semakin besar roda memang lebih cepat tapi segi kestabilan jauh lebih berkurang...Dan memang semua itu balik lagi juga masalah kebiasaan...Sebenernya belom ada efek negatif yang jelas selain itu...Kalo saran saya pertama kali memang roda kecil jauh lebih efektif untuk penyesuaian sepaturoda...Keep rollin'!!Rodra.

Zacky dari klub Mataram Yogyakarta menulis:

kl menurut q seh emang sepertinya berat kl pake 100mm tapi kl dari anak2x udah merasa mampu dan udah terbiasa...kayanya gak masalah juga..tapi ini kayanya perlu latihan khusus...

Saya menanggapi:

The fact is...Di Sidoarjo 2009 banyak kelompok B pakai roda 4 x 100mm, bahkan beberapa anak kelompok A pakai roda 3 x 100mm. Jagat sdh berubah...

Komentar Ronal, pelatih yang tengah naik daun:

halo semua...sebelumnya maaf bgt di sdoarjo gak bisa dateng krena ada interview. untuk masalah banyak 4x100 yg dipake di kel.umur b sebenernya menurut saya sudah salah kaprah, aku kasih pengalaman ku aja ya, dulu waktu pelatda dki thn 2003 kebetulan sedang masa peralihan dari 5x80mm ke 5x84mm. Saat itu di tim DKI masih menggunakan 5x80mm semua, kemudian Jonathan(Skater dari AS) setelah dia melalang buana ke New Zealand, dll menyarankan beberapa atlet untuk beralih ke 5x84mm namun beliau sangat selektif sekali, permasalah tinggi badan lah, berat badan lah, dan umur. Dulu saya juga belum menyadari pentingnya itu semua, namun ketika saya menjadi pelatih dan mempelajari ilmu olahraga ternyata semua itu benar. simplenya gini; atlet usia 12- sekitar 18(tgt masing2)sel pertumbuhanya masih bekerja sangat baik. Bayangkan bila si anak diberi beban yang luar biasa(tanpa perhitungan dan ilmu yang benar) apakah anak tersebut akan tumbuh secara maksimal? kenyataannya tidak, karena ketika latihan sel2 otot kita di rusak dan pada atlet usia dini yang lebih dominan dirusak adalah sel pertumbuhan. Jadi dampak yang paling keliatan adalah tinggi badan anak tidak maksimal dan untuk jangka panjangnya komponen power si atlet tentu tidak maksimal. Ironisnya di sepatu roda indonesia para pelatih dan orangtua terkadang tidak memahami ilmu olahraga tersebut, padahal ilmu olahraga dalam dunia kepelatihan sangatlah berperan penting. contohnya latihan yang baik adalah latihan yang efisien dan terprogram dengan baik bukanya latihan yang exra berat saja. perlu kita ketahui menurut suatu sumber (sorry lupa ;p) usia maksimal atlet sepatu roda adalah di atas 21 thn...kalau dikaji lebih dalam; komponen power dalam sepatu roda cepat sangatlah dibutuhkan dan perkembangan komponen power maksimal didapat setelah masa pertumbuhan anak/atlet itu sudah habis (sudah tidak tumbuh lagi. nah dalam keadaan tsb baru komponen power bisa bekerja dengan baik. Di dunia research ttg dunia olah raga sangat baik dan cepat, jadi tidak monothon, kesimpulanya efektivitas pembinaan mereka sangat jauh dibanding kita, makanya atlet kita sulit bersaing di dunia hehehhe...;p Oh iya 1 lagi kalau masalah kebiasaan itu pasti bisa aja, misalkan anak usia 8 thn di kasih 4x100mm pasti lama2 akan bisa jalan, tapi apakah itu efisien? kestabilan juga sangat penting, diameter roda yang lebih besar tingkat kesatabilanya lebih jelek. dampaknya selain tidak maksimal, teknik anak tersebut juga tidak maksimal. maka itu perlu tahapan2. so saran saya jangan terpancing ngikutin yang ada sekarang, target seorang atlet adalah di usia prestasinya( mis. kel.umur F), jadi percuma menang sekarang tapi di kel.bebas tidak bisa bersaing. Aku ada contoh kasus tapi aku cari bukunya dulu ya....sekian n semoga bermanfaat. any comment?

Yukeko bilang begini:

Allo..Dlm hal ini aku setuju dngn ronald (bule)..Sebaikna anak2 usia dini diberi pengarahan untuk tdk cpt2 beralih k roda besar. Sbg cth : ketika roda 100mm sedang booming d dunia, bahkan Chad Hedrick msh ingin merasakan 5x90mm dl untk bbrp saat sblm beralih k 4x100mm. Dan pengalaman saya mendampingi atlet2 DKI, Regi Yumasuti & Mirko Andrasi d 2006 krawang, jg msh memakai 5x84mm sbg masa transisina, pdhl lawan2na (dimas, rodra, alan, dll) sdh 4x100mm. Saya tanyakan kpd pelatih DKI, trnyata hal tsb dkarenakan fase fisik dan otot dia br sampai batas tertentu, apabila dipaksakan akan membuat program yg dibuat menjadi tidak sesuai.Hal ini ditujukan agar masa ototna tdk terhambat dan mencapai puncakna pada 2008.

Jd sebaikna prlatn yg d gunakan jg disesuaikan dngn program yg dibuat untuk atlet trsbt.

Oke, semoga bermanfaat bagi orang tua atlet...



Kejuaraan Sepatu Roda ILSC 2009 seri ke 3

Kejuaraan ILSC seri 3 (tiga) akan digelar di OCEAN PARK, Jl. Pahlawan Seribu, BSD, Tangerang Banten, 7-8 Nopember 2009 (Sabtu – Minggu). Panitia dan Pengkab PORSEROSI Tangerang mengundang atlit dari seluruh komunitas inline skate maupun hockey sebagai peserta kejuaraan ILSC 2009 seri 3 (tiga) di Banten.

Mata lomba meliputi:
1. INLINE STANDART (PRA JUNIOR)
o SPRINT 300 m (MASSTART)
o SPRINT 500 m (MASSTART)

2. INLINE SPEED (JUNIOR dan SENIOR)
o SPRINT 500 m (QUALIFICATION)
o ELIM 3 km K.U A – B / Pa – Pi
o ELIM PTP 5 km K.U C – D / Pa – Pi
o ELIM PTP 10 km Pa – Pi
o RELAY 10 km Pa – Pi

3. FUNSKATE (PEMULA)

4. HOCKEY

5. X’HIBITION

Uang pendaftaran
INLINE SKATE Rp 50.000,- / ATLIT
FUNSKATE Rp 50.000,- / ATLIT
HOCKEY Rp 500.000,- / TEAM

Informasi lomba :
- INLINE SKATE ERIK 0816.1890127 / SHINTA 0815.9287931
- FUNSKATE DETJE 022. . 60976979
- HOCKEY SETA 0818.822448


PETUNJUK ATURAN LOMBA
1. Kejuaraan ini memperebutkan:
- Piala KOMITE OLAH RAGA KABUPATEN TANGERANG
- Kategori sepatu roda SPEED (JUNIOR dan SENIOR)
- Perhitungan juara umum berdasarkan: MEDALI (Emas, perak dan perunggu)
2. Tanggal pelaksanaan : 24 - 25 OKTOBER 2009
3. Tempat : OCEAN PARK, BSD, TANGERANG, BANTEN
4. Mata lomba:
- PRAJUNIOR (standar)
SPRINT 300 M (MASSTART) K.U A – D / Pa – Pi
SPRINT 500 M (MASSTART) K.U A – D / Pa – Pi
- JUNIOR (speed)
SPRINT 500 M (QUALIFIKASI) K.U A – D / Pa – Pi
ELIMINASI 3 KM K.U A – B / Pa – Pi
ELIM PTP 5 KM K.U C – D / Pa – Pi

5. Hadiah Lomba :
- Piala (Prajunior/Standar)
- Medali (junior/Speed) dan (senior/Speed)

6. Persyaratan lomba :
- Setiap atlit dapat mengikuti semua nomor lomba sesuai dengan jenis sepatu roda dan kelompok umurnya.
- Pendaftaran harus disertai dengan fotokopi N.I.A (bagi yang sudah memilikinya) / fotokopi akte kelahiran dan surat keterangan dari sekolah (bagi yang belum memiliki N.I.A)

7. Peraturan dan Tata tertib lomba:
Pada dasarnya peraturan dan tata tertib lomba mengacu pada peraturan yang telah berlaku secara umum di lingkungan PORSEROSI dengan beberapa tambahan peraturan sebagai berikut:
- Batas usia MAKSIMUM untuk setiap kelompok umur adalah dihitung sampai dengan saat TANGGAL ULANG TAHUNNYA.
- Apabila dalam lomba nanti hanya terdapat 2 (dua) atlit dalam satu mata lomba maka nomor lomba tersebut tetap dipertandingkan namun, tidak akan di hitung medalinya.
- Setiap peserta dapat mengikuti lomba satu tingkat diatas kelompok umurnya dengan catatan apabila sudah berada di kelompok umur tersebut tidak diperkenankan untuk mengikuti lomba di kelompok umur sebenarnya.
- Pemanggilan peserta lomba dilakukan sebanyak 2 (dua) kali. Pertama 5 (lima) menit sebelum perlombaan berlangsung dengan menyebutkan nama dan nomor dada peserta, kedua 1 (satu) menit sebelum perlombaan untuk pengecekan. Apabila dalam 2 (dua) kali pemanggilan atlit tidak hadir maka panitya berhak mencoret atlit tersebut.

8. Sistem lomba :
a). SPRINT 300 M:
- Prajunior (standar):
Start dilakukan secara massal (masstart), penentuan pemenang adalah atlit terdepan yang menginjak/melewati garis finish.
Pada saat lomba dilaksanakan peserta lebih dari 10 (sepuluh) atlit maka akan dibagi menjadi 2 (dua) seri.
Final akan diambil 6 (enam) waktu terbaik dari seluruh serinya.
Penempatan atlit di setiap serinya akan ditentukan oleh panitya.
b). SPRINT 500 M:
- Prajunior (standar):
Start dilakukan secara massal (masstart), apabila hanya 1 (satu) seri, maka penentuan pemenang adalah atlit terdepan yang menginjak/melewati garis finish.
Pada saat lomba dilaksanakan apabila peserta lebih dari 10 (sepuluh) atlit maka akan dibagi menjadi 2 (dua) seri.
Final akan diambil 6 (enam) waktu terbaik dari seluruh serinya.
Penempatan atlit di setiap serinya akan ditentukan oleh panitya.
- Junior (speed):
Setiap atlit akan melalui garis finish sebanyak 2 X.
Sprint 500 m akan dilaksanakan dengan 2 (dua) babak, yaitu babak penyisihan dan final, tergantung dari jumlah atlit yang mengikuti lomba.
Setiap seri dalam babak penyisihan akan diikuti oleh 6 (enam) sampai 8 (delapan) atlit.
Final akan diambil 6 (enam) atlit dengan catatan waktu tercepat dari seluruh seri. Hal ini sangat tergantung dengan jumlah atlit peserta lomba.
Sistim start yaitu dengan posisi atlit berdiri statis (diam) di dalam kotak start yang tersedia dan atlit akan bergerak pada saat aba – aba start (YA) telah terdengar.
Pencurian start hanya akan ditolerir sampai 2 (dua) kali, maka apabila terjadi pencurian start ke tiga, maka atlit yang melakukannya akan langsung didiskualifikasi walaupun mungkin atlit tersebut tidak melakukan pencurian start sebelumnya, demikian pula dengan pencurian start keempat dst dalam seri yang bersangkutan akan langsung didiskualifikasi untuk atlit yang melakukan.
Penempatan atlit di setiap serinya akan ditentukan oleh panitya.
c). ELIMINASI
- Eliminasi 3 km (junior/speed) K.U A – B / Pa – Pi
Lomba ini dilaksanakan dengan sistim langsung final dan start secara massal (masstart). Diskualifikasi berlaku bagi atlit yang melakukan pencurian start ketiga, keempat dst.
Posisi atlit untuk start akan ditentukan oleh panitya.
Setiap atlit akan melalui garis finish sebanyak 10 X.
Eliminasi akan dimulai pada saat papan petunjuk putaran menunjukkan angka 7, untuk itu akan dibunyikan tanda bel dan eliminasi akan berlangsung terus.
Bel tanda eliminasi akan berbunyi pada saat papan menunjukkan angka: 7 dan 4
Pada saat bel tanda berlangsung eliminasi maka 1 (satu) atlit yang terakhir dalam urutan lomba di putaran tersebut akan dikeluarkan pada putaran berikutnya, artinya apabila di putaran bel berbunyi, maka 1 (satu) atlit terakhir yang melalui garis start/finish akan langsung dikeluarkan dari arena lomba.
Overlap berlaku pada sistim lomba eliminasi ini.
d). ELIM POINT TO POINT
- Elim point to point 5 km (junior/speed) K.U C – D / Pa – Pi
Mata lomba ini akan dilaksanakan dengan sistim langsung final dan start massal (masstart). Diskualifikasi berlaku bagi atlit yang melakukan pencurian start ketiga, keempat dst.
Posisi atlit untuk start akan ditentukan oleh panitya.
Setiap atlit akan melalui garis finish sebanyak 17x.
Point 2 (dua) akan diberikan pada atlit PERTAMA dan point 1 (satu) akan diberikan pada atlit KEDUA yang menginjak/melewati garis finish saat putaran tertentu yang telah ditetapkan.
Point 3 (tiga) akan diberikan untuk atlit pertama yang memasuki finish, point 2 (dua) untuk atlit kedua dan point 1 (satu) untuk atlit ketiga.
Point 2 (dua) dan 1 (satu) akan diberikan pada dua atlit yang menginjak/melewati garis finish pada saat papan putaran menunjukkan angka – angka sbb: 12, 8 dan 4
Pemenangnya adalah atlit dengan point terbanyak dan menyelesaikan lomba sampai memasuki garis finish pada putaran terakhir, walaupun atlit tersebut tidak di urutan 1, 2 atau 3.
Atlit dengan point terbanyak akan tetapi tidak menyelesaikan lombanya sampai putaran terakhir, maka atlit tersebut dianggap mengundurkan diri sehingga poin yang didapat dianggap hangus.
Apabila terdapat jumlah poin yang sama, maka sebagai penentu pemenang adalah atlit yang menempuh waktu tercepat dari kedua atlit yang mempunyai poin yang sama tersebut.
Dalam mata lomba ini sistim overlap berlaku sejak awal start.

9. Ketentuan dan sangsi :
a). Ketentuan yang berlaku:
- Setiap atlit wajib mematuhi tata tertib, sopan santun dan peraturan lomba.
- Para atlit yang sedang mencoba arena tanding, sedang berlomba atau selama berlangsungnya penyelenggaraan kejuaraan tidak diperbolehkan untuk:
1. Menghalang – halangi atlit lain.
2. Mendorong dan menyikut atlit lain.
3. Berbuat hal – hal yang merugikan atlit lain
4. Berbuat hal yang merugikan panitya lomba dan pihak lain.
5. Memukul dan berkelahi dengan atlit lain dan pihak panitya.
b). Sangsi apabila atlit melanggar hal – hal dalam point 1 s/d 6:
- Hasil prestasi lombanya dibatalkan atau dicabut.
- Pengurangan nilai untuk penentuan juara umum.
- Perbuatan yang melanggar hukum akan diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk dipidanakan.

10. Protes
Protes dapat dilakukan dan disampaikan kepada chief referee secara tertulis dengan membayar uang protes sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dan diajukan dalam jangka 15 (lima belas) menit setelah diumumkannya urutan pemenang dari mata lomba yang bersangkutan.
Keputusan panitya pelaksana beserta juri tidak dapat diganggu gugat dan uang protes tidak bisa dikembalikan.

11. Pendaftaran Peserta
a). Waktu pendaftaran:
Ditutup pada tanggal 18 October ’09.
b). Cara pendaftaran:
- Fax : (021) 56953714
- SMS : 0815 9287931(inline speed)
c). Informasi lomba:
- Inline speed : Erik 0816 1890127 / Shinta 0815 9287931
- Funskate : detje 022. 60976979
- Inline Hockey : Seta 0818 822448
d). Biaya pendaftaran:
- Inline speed Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) / Atlit
- Funskate Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) / Atlit
- Inline Hockey Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) / Team

Rabu, 30 September 2009

KEJURPROV DIY 2009. Sepatu Roda Digelar di Mandala Krida

Kejurprov X-2009 untuk cabang sepatu roda digelar di sirkuit sepatu roda stadion Mandala Krida Yogyakarta, 3-4 Oktober 2009. Giliran tuan rumah tahun ini adalah kota Yogyakarta. Tahun ini hanya diikuti 3 kabupaten/kota, yaitu Yogyakarta, Sleman dan Bantul. Prediksi sementara, perolehan medali tahun ini akan dikuasai Kota Yogyakarta. Hal ini dimungkinkan karena Kota didukung atlet-atlet senior putra seperti Ardi, Oki, dan atlet muda yang tengah naik daun Bayu. Di kelas Putri, Kota mengandalkan Melati, Cahya, Mitha, Dinda, Songga, dan Memes. Tahun 2009, Kota memiliki atlet paling berlimpah, baik putri maupun putra.

Urutan kedua kemungkinan akan diduduki Sleman. Menurut perhitungan di atas kertas, Sleman dapat mengantongi emas dari nomor-nomor beregu putri, Relay dan TTT (Team Time Trial). Di nomor individu, Sleman boleh berharap emas dari Andri dan Rinda. Sementara atlet putra Sleman belum dapat diharapkan menggondol emas. Bahkan untuk merebut perak saja cukup berat. Prediksi ini cukup beralasan, karena Sleman sangat minim atlet putra. Tiga atlet putra yang memperkuat Sleman tahun ini merupakan atlet-atlet muda, antara lain Augy, Kharisma Yudhistira, dan Jojo. Harapan medali perak untuk putra kemungkinan dapat diperoleh dari nomor beregu, Relay dan TTT. Ini pun harus berjuang keras.

Bantul tahun ini boleh dibilang miskin atlet. Di nomor putra masih ada atlet yang sudah saatnya pensiun, seperti Widodo, Hafiz, dan Sugeng. Di jarak pendek (300m dan 500m), Bantul boleh berharap emas, tetapi untuk jarak menengah jauh (10.000m), atlet-atlet yang sudah tidak remaja ini harus bertarung ketat dengan para yuniornya dari Kota dan Sleman. Di kelompok Putri, Bantul masih punya Nadya, Shafa, Windy, dan Rana. Di peta kekuatan, atlet putri Bantul ini kurang diperhitungkan. Namun, siapa tahu?

Ini cuma prediksi. Semua bisa terjadi di lapangan. Impossible is nothing.

Selasa, 29 September 2009

ILSC Seri Tiga di OceaN pARk BSD Tangerang

ILSC Seri Tiga: Tangerang

Kabar gembira buat teman-teman inline-skaters, bahwa Kejuaraan Sepatu Roda ILSC seri ke tiga bakal digelar di Tangerang, 24 - 25 Oktober 2009. Bertempat di Ocean Park, Bumi Serpong Damai (BSD). Kejuaraan ini merupakan kelanjutan dari dua seri lomba sebelumnya. Seri pertama diselenggarakan di Sirkuit Kota Bekasi Mei 2009. Ke dua di Monas Jakarta.

Mata lomba dan aturan lomba masih menunggu dari Panitia.